“Dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku.. ku kan berjanji menjadi yang terbaik.. Jalankan segala perintah-Mu menjauhi segala larangan-Mu… adalah sebait do’a ku untuk-Mu”
Petikan lirik bagus dari Ungu.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar Wal-Hamid…
Subhanallah, Maha Suci Engkau Rabb pengatur seluruh alam..
Tiba juga di hari lebaran kita, hari menuju kemenangan, hari dimana menuju kembali kesucian, hari dimana semuanya dimulai dari nol kembali. Pertanyaannya apa iya? Seberapa yakin kita akan kembali ke nol kembali??
Alhamdullillah, Kupanjatkan segala syukurku kepada-Mu Rabb ku, yang telah memberikan kebaikan dalam kehidupanku, yang telah memberikan semua kebaikan dunia ini.
Kembali ke pertanyaannya. Apa iya? Kita kembali ke kesucian kita? Atau ini hanya sekedar ritual yang kita lakukan setiap setahun sekali? Dulu temanku ada yang bertanya, “jika ada do’a penghapus dosa, kenapa Tuhan menciptakan Neraka? Dosa tidak akan semudah itu dihapuskan”
Benar juga, dosa tidak semudah itu untuk dihapuskan, kadang kita harus membayar apa yang telah kita ambil. Dosa yang kembali ke kesucian kita adalah dosa kita terhadap Allah, betapa lalainya kita tidak melakukan semua perintah dari-Nya, betapa sering-Nya kita menjemput dosa kita dengan menjalankan setiap larangan-Nya. Selama kita maseh berada di dalam kendaraan “Muslim”. Tidak sekalipun kita menjadi Murtad. Karena satu²nya dosa yang tidak akan diampuni adalah syirik. Na’uzubillah..
Tetapi dosa yang susah untuk dihapus adalah dosa terhadap sesama manusia, dosa terhadap orang tua, dosa terhadap anak, dosa terhadap saudara, dosa terhadap tetangga, dosa terhadap semua maslahat umat manusia. Dosa tersebut baru bisa dihapuskan setelah kita saling memaafkan secara tulus, bukan dengan ucapan kita saja, bukan Cuma dengan lisan dari orang tersebut. Nah ini dia pertanyaan pentingnya, apakah kita telah meminta maaf dengan tulus? Dan kita mau memberikan maaf dengan tulus pula? Atau kita selalu berpura² mengucapkannya, tapi kita tidak pernah tulus untuk memberikan maaf kita??
Allahu Akbar… Maha besar Engkau Rabb ku yang tiada banding yang untuk di sandingkan dengan-Mu. Tiada Tuhan selain Engkau Ya Rahman. Lalu bagaimana dengan dosa kita terhadap orang yang pernah kita dzalimi yang tanpa sengaja? Aku bukan seorang ustadz jadi aku gak tau… Makanya sebelum kita mengambil sebuah keputusan untuk responsif terhadap sesuatu, perhatikan dulu kebaikan dan keburukannya. Marahlah terhadap situasi, tapi bukan terhadap orang tersebut, karena jika ada kebencian di hati kita, susah untuk menghapusnya, susah untuk membersihkannya. Semakin karat di dalam hati kita, semakin luka yang kita buat nantinya.
Atas nama Seluruh umat muslim Indonesia dan terutama keluarga, Saya Dien memohon maaf sebesar²nya kepada orang² yang pernah tanpa sengaja atau pun sengaja kami sakiti.
Kepada teman² di seluruh Indonesia.
Selamat Idul Fitri 1429H, semoga kita kembali ke dalam fitri kita, dan kita menjadi manusia putih kembali, tanpa penuh dosa.